Berita Terkini

Melihat Kapal Perang Australia di Tepi Laut Jakarta

HMAS Darwin yang merupakan kapal perang milik Australia bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kapal yang bermuatan 224 awak ini tiba akhir pekan lalu. Australia Plus berkesempatan untuk mengunjunginya.

Kapal perang HMAS Darwin tiba pada hari Minggu pagi (24/1) dan langsung  menerima kunjungan publik di siang harinya.

Kapal seberat 4000 ton ini berangkat dari Thailand dengan misi 6 bulan berlayar di Timur Tengah untuk memberantas perompakan dan penyelundupa narkoba dan telah dimulai sejak akhir Desember 2015 lalu.

Pemandangan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari atas kapal HMAS Darwin. (Foto: Nurina Savitri)
Pemandangan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari atas kapal HMAS Darwin. (Foto: Nurina Savitri)

Para awak kapal yang dipimpin oleh Letnan kolonel (Letkol) Laut Philip Henry ini sedang berkumpul di Geladak saat tim Australia Plus mengunjungi HMAS Darwin.

“Mereka sedang membangun tenda untuk acara pesta koktail besok malam. Tak ada misi khusus di Indonesia, kami hanya mampir,” kata pemandu siang itu, Sersan Stewart Martin, sambil membawa masuk rombongan kecil pengunjung ke dalam kapal.

Kapal perang HMAS Darwin merupakan kapal perang jenis FFG atau kapal rudal terpadu buatan Amarika yang hanya diproduksi sebanyak 61 buah. Kapal perang ini mampu menangkal serangan dari permukaan laut, di bawah permukaan laut, dan udara.

“Australia punya 6 kapal jenis ini. Selain HMAS Darwin, ada pula HMAS Adelaide, Canberra, Sydney, Melbourne dan Newcastle,” sebut Sersan Stewart.

“Mereka adalah kapal Angkatan Laut Australia pertama yang bertenaga turbin gas untuk pendorong utamanya,” sambung pria paruh baya ini.

Australi Plus dan pengunjung lainnya diajak Sersan Stewart ke sisi geladak tempat di mana pompa bahan bakar tersimpan.

“Ada yang tahu ini apa?,” katanya kepada pengunjung sambil menunjuk pipa lebar yang tampak seperti memiliki cerobong asap. “Ini adalah bagian paling berbahaya dari kapal ini, selain rudal,” sambungnya.

Ia menuturkan, “Bahan bakar kapal ini diisi selagi kapal berjalan dan jarak antara kapal tanker pengisi bahan bakar dengan kapal kami harus tepat dan kecepatannya harus selaras. Sama seperti pengisian bahan bakar di udara.”

Sersan Stewart Martin menjelaskan tentang pipa bahan bakar kapal. Pengisian bahan bakar dilakukan ketika kapal sedang berjalan. (Foto: Nurina Savitri)
Sersan Stewart Martin menjelaskan tentang pipa bahan bakar kapal. Pengisian bahan bakar dilakukan ketika kapal sedang berjalan. (Foto: Nurina Savitri)

Setelah itu, rombongan diajak menuju ruang kendali kapal tempat sistem kemudi dan navigasi berada.

Kapal parang HMAS Darwin dilengkapi dengan hanggar helikopter dan helikopter ‘Seahawk’ yang saat tim Australia Plus berkunjung baru saja menjalani pemeriksaan.

Dek utama (semacam lantai dasar pada bangunan) HMAS Darwin disebut dek 1, dan tingkat di atasnya dimulai dengan angka 0. Jadi, ruang kendali kapal yang berada satu lantai di atas dek utama disebut lantai 0-1.

Sementara untuk tingkat-tingkat di bawah dek utama disebut dengan lantai 2 hingga 4, dengan lantai terbawah memiliki angka paling besar.

“Karena ini kapal Amerika jadi sistem penamaan lantai (tingkat)-nya seperti itu,” jelas sang pemandu siang itu.

Kursi kemudi di ruang kendali kapal atau 'bridge'. (Foto: Nurina Savitri)
Kursi kemudi di ruang kendali kapal atau ‘bridge’. (Foto: Nurina Savitri)

Ia juga menerangkan, misi perang terakhir yang dilakukan HMAS Darwin adalah Perang Teluk di dekade 1990-an.

“Saya tak bisa menjelaskan detil rudal apa saja yang ada di kapal ini, karena saya di sini sebenarnya insinyur laut, tapi seingat saya untuk misi perang, kapal ini terakhir terlibat dalam Perang Teluk,” ungkapnya.

HMAS Darwin pernah ditugaskan 5 kali ke Teluk Persia, yaitu pada tahun 1990, 1991, 1992, 2002, dan 2004 sebagaimana situs resmi Angkatan Laut Australia. Selain itu, HMAS Darwin pernah bertugas di Timor Leste pada tahun 1999 dan beroperasi di Kepulauan Soloman pada tahun 2001.

Sumber: http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2016-01-27/menengok-kapal-perang-australia-di-tepi-laut-jakarta/1540105

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *